Cahaya di Koridor Al Huda

 Cahaya di Koridor Al Huda

Sepenggal Kisah tentang Penerapan KBC (Kurikulum Berbasis Cinta)

Matahari belum sepenuhnya bangun saat Arfan melangkah menuju masjid Madrasah Aliyah Al Huda. Di kesunyian fajar, ia bersujud lama, merasakan ketenangan yang hanya bisa diberikan oleh Sang Pencipta. Baginya, mencintai Allah bukan sekadar kata-kata dalam doa, melainkan napas yang ia hirup sebelum memulai hari yang sibuk. Di sini, di bawah kubah yang megah, ia menyerahkan segala harapannya.
Di gerbang sekolah, Syaza menyapa setiap orang dengan senyum yang tulus. Ia teringat pesan tentang indahnya akhlak Rasulullah yang senantiasa menebar salam. Mencintai Rasul berarti menghidupkan kembali kebaikan-kebaikan kecil dalam interaksi sehari-hari. Baginya, sebuah sapaan hangat adalah sedekah termudah yang bisa ia berikan untuk menghangatkan suasana madrasah.
Sebelum kelas dimulai, Arfan duduk di bangkunya dan meneguk air putih dengan tenang. Ia menyadari bahwa tubuhnya adalah amanah. Mencintai diri sendiri berarti menjaga kesehatan dan memberi ruang bagi jiwanya untuk beristirahat sejenak di tengah tumpukan tugas. Ia menutup matanya, mengatur napas, dan memastikan dirinya siap secara mental untuk menyerap ilmu hari ini.
     


Saat istirahat, Arfan melihat Ilyas yang tampak kebingungan membawa tumpukan buku referensi yang berat. Tanpa diminta, Arfan segera menghampiri dan mengambil alih separuh beban itu. Mencintai sesama adalah tentang peka terhadap beban orang lain. Mereka berjalan beriringan menuju perpustakaan, berbagi tawa kecil yang meringankan langkah kaki mereka. 
Perpustakaan Al Huda adalah tempat favorit Syaza dan Arfan untuk berdiskusi. Di antara rak-rak buku yang menjulang, mereka berdebat tentang teori fisika dan kaitannya dengan ayat-ayat alam. Mencintai ilmu membuat mereka haus akan kebenaran. Bagi mereka, setiap lembar buku adalah jendela menuju keajaiban dunia yang diciptakan dengan penuh perhitungan.

Di dalam laboratorium, Syaza mendengarkan penjelasan Ustazah Hana tentang struktur sel dengan penuh kekaguman. Ustazah Hana menjelaskan betapa rumit dan sempurnanya desain setiap makhluk hidup. Syaza mencatat setiap detail, menyadari bahwa semakin ia memahami sains, semakin besar kekagumannya pada kebesaran Tuhan. Cinta pada ilmu adalah ibadah yang tak putus-putus.

Sore harinya, Arfan dan Syaza bergabung dengan klub lingkungan di taman madrasah. Mereka bersama-sama menanam bibit bunga dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal di area hijau. Mencintai lingkungan adalah bentuk syukur atas bumi yang dipijak. Arfan menggali tanah dengan hati-hati, sementara Syaza menyiapkan air untuk menyiram tanaman yang baru saja ditanam.

Syaza berhenti di depan tempat sampah pilah yang ada di pojok kantin. Ia dengan teliti memisahkan botol plastik dari sampah organik lainnya. Baginya, menjaga kebersihan madrasah adalah bagian dari iman. Tindakan sederhana ini adalah wujud nyata dari cintanya pada alam sekitar, memastikan bahwa warisan keindahan ini tetap terjaga untuk adik-adik kelasnya nanti.
Saat upacara bendera, Arfan berdiri tegak dengan tangan menghormat pada sang saka Merah Putih. Di dalam hatinya, ia berjanji untuk memberikan prestasi terbaik bagi bangsa. Mencintai tanah air baginya adalah dengan menjadi pemuda yang berintegritas dan bermanfaat. Di bawah langit Al Huda yang cerah, ia merasakan kebanggaan menjadi bagian dari negeri yang besar ini.
Hari berakhir saat sinar jingga menyentuh dinding-dinding Madrasah Aliyah Al Huda. Arfan dan Syaza berdiri di depan gerbang, menatap sekolah mereka sebelum pulang. Mereka menyadari bahwa cinta yang mereka amalkan hari ini telah membuat mereka tumbuh lebih dewasa. Di tempat ini, mereka belajar bahwa menjadi manusia seutuhnya adalah tentang menyeimbangkan cinta kepada Tuhan, sesama, dan semesta.

By Ahmad SaHid



0 Komentar